Monday, June 21, 2010

Perubahan

Perubahan bukan lah hal yang mudah. Setiap orang berubah, waktu berjalan seperti roda di jalan yang mulus dan lurus, sedikit kemiringan.

Setelah lulus universitas, segalanya berubah. ekspektasi, teman, semuanya serba tidak stabil. ditambah sebetulnya saya tidak punya hak untuk menulis seakan-akan memiliki waktu luang. Ketidakstabilan ini membuat saya sama sekali tidak punya waktu luang.

Diantara ketidak stabilan ini, hari ini saya diminta mama untuk menemani adik yang merayakan ulang tahun Jakarta di sekolahnya. dari sehabis subuh karen sudah didandani baju adat betawi yang membuat dia terlihat sangat manis. Jadi saya memutuskan untuk membawa kamera kesayangan yang sudah 2 bulan nganggur di lemari untuk foto sana sini.

Sampai di pintu gerbang sekolah terlihat beberapa dara kecil mengenakan kebaya. Terseok-seok karena tidak biasa mengenakan kain lipat. anak laki-laki juga mengenakan baju ala si pitung tapi jujur saja kalah mencolok dibandingkan pakaian adat wanita jakarta yang warna-warni. Semua warna terang. Terdengar suara mereka tertawa,, atau merengek karena si ibu masih saja ribet mendandani.

Dari lensa kamera saya menyadari sesuatu yang menarik. Suasana hari yang tidak biasa membuat mereka kembali bersemangat memainkan permainan tradisional seperti gobak sodor, ular-ularan, tak jongkok, atau sekedar kejar-kejaan. Mereka tidak lagi terlihat sibuk bermain hp.

Saya jadi ingat ketika saya sd belum ada yang namanya hp hadir ke lingkungan bermain. Zaman terus maju. Segala alat elektronik datang, permainan anak tradisional mulai dilupakan. Terkadang saya bertanya. Benarkah kita harus mengikuti zaman? Adakah yang melarang jika saya mau begini saja. Bukan berarti puas dengan keadaan sekarang, tapi merasa kedadaan sekarang lebih baik. Hp maupun komputer, permanan yang ada didalamnya, membuat anak-anak menjadi skeptis pada keadaan sekitar. Dunia menjadi ada di kepala masing- masing. Imajinasi masing-masing. Kepedulian hanya lalu seperti nyeri dalam hati, perasaan tidak enak atau simpati yang singgah sebentar saja.

Kesibukan orang tua, maaf berburuk sangka, ketidak hadiran orang tua di kehidupan anak secara intim digantikan oleh kehadiran handphone dan permainana elektronik lainnya. Tidak sadarkah begitu memberi alat tersebut berarti memutus dunia anak itu dengan sekitar? Apalagi tanpa pengawasan. Yang muncul dipermukaan adalah sikap anak yang arogan dan tidak mau peduli, yang tersimpan di dalam adalah rasa kesepian dan kecewa.

Beruntung orang tua saya di rumah selalu mengajarkan menghormati orang yang lebih tua dan rakyat kecil. Dimana penyetaraan derajat bukan terletak pada profesi apa yang ia jalani tapi perbuatan yang dia lakukan. Saya terkejut melihat anak yang akan membeli es teh. Dengan nada suruhan pada abang penjual minuman. "teh satu pake susu , cepet!" seakan-akan dia bos besar. Muak melihatnya. Mana kata, "tolong", "terimakasih", senyuman. Tidak ada. Bahkan pernah saya tahu bahwa ada anak yang menampar pembantunya. Anak ini masi berumur kira-kira 10 tahun. dan pembantunya mungkin sudah diatas 20 tahun. Miris ketika saya tahu.

Zaman memang berubah. Mungkin saya bandingkan dengan novel yang baru saya baca , 'para priyayi" karya umar kayam, sungguh berbeda dengan sekarang. Yang saya maksud bukan cara berpakaian atau kendaraan yang mereka punya adalah andong dengan sekarang yang pakaian beragam dan mobil dimana-mana. Ternyata pergeseran itu juga terjadi pada bagaimana kita mememperlakukan orang lain. Sikap kita pada sesama dan orang yang lebih tua. Buku ini enjadi tamparan bagi saya dan kembali mendudukkan saya pada hal-hal yang sifatnya nyata, bukan duniawi saja.

Saya bukan tidak memihak pada perubahan zaman. tapi setidaknya hati saya berharap, meskipun zaman berubah lebih maju, tapi tidak harus berubah pula nilai-nilai yang sifatnya mendasar. Seperti rasa hormat, kasih sayang, ramah. Dan nilai-nilai itu diturunkan bukan hanya dalam keluarga tapi pada hubungan sekecil apapun, bahkan dari seorang kakak pada seorang adik atau pada sesama orang asing.

Ada satu kalimat yang selalu saya ingat dan kalimat ini diucapkan oleh sesorang yang menurut saya sangat bijak, kata beliau, "Dunia memang gila, tapi kita ga boleh ikutan gila." Dalam arti segala perubahan yang dalam nurani kita terasa tidak pas, sebagai makhluk yang punya akal, kita harus memikirkan kembali, menimbang, dan mengambil inti yang akan membuat dunia ini lebih baik secara universal, bukan hanya sebagian saja apalagi hanya untuk kepuasan diri sendiri. Dan selalu saya ingat, segala sesuatu dimulai dari diri sendiri.


Jakarta,
22 Juni 2010


Saturday, April 3, 2010

sabit

Sembilu perih diujungnya
Ketika jiwaku membukakan pintu
Lebar dan mencerukkan untukmu
Lengkungannya yang tajam membuatku terus terjaga



Ah, cintamu layaknya bulan sabit
Mengiris separuh hidupku
Hanya untuk kau buang percuma
Tercecer di ruang makna gelap
Harapan kelabu memayungi esok hari
Membuatku enggan melangkah

Tuhan,, tunjukan hambamu ini jalan
Terseret cerita kasmaran yang tak punya toleransi
Terlalu egois dan tak mau dengar
Hasratku terlahir disini
Mencintai dan membimbing
Memecah semua emosi dan keinginan
Untuk tetap di sini

Perahuku mendekat ke ujung samudra
Aku tak melihat ada tepi
Bimbang dan perih oleh garam
Dimanakah akan kulepas sauhku
Dasar laut gelap gulita
Disinari sabit temaram

Sabit
Pujimu hanya terdengar seperti desiran tajam
Tak pasti dan kosong
Seperti harapan yang kau suguhkan
Pedas dan tak mengenal belas kasihan


Kecewa

Thursday, April 1, 2010

reinaisans

mungkin kali ini cinta akan sangat enggan dijadikan bahan pembicaraan 

   hey, aku membosakan 

ya, kau membosankan 

ah, peduli apa?dia juga membosankan 

   ha ha? kau sakit hati

mm, ya, aku sakit hati

dia? diam! peduli apa aku dengan namanya

   sayang, kau bosan dan kesakitan


ya, bodoh! kenapa baru sadar sekarang?

akhirnya cinta akan jadi begitu bosan dan kesakitan

dulunya indah seperti pelangi merah jambu

entahlah, sepertinya harus bilang maaf

   pada hati, bukan?

5 may 2005

let me run

aku ingin berlari ke masa lalu

dan menemukan dirimu yang berarti

kemana langkah ini mesti berayun

dirikah? 

aku juga menemukan diriku 

terkapar dan berdarah

di tanganmu bilah pisau belati

bunga dari negeri antahberantah berserakan

aku ingat

saat itu aku benar-benar tak mau mati hanya olehmu

aku tangguh, aku berpikir, aku bangkit, aku berdiri

aku tinggalkan sisa-sisa memori dan emosi sia-sia yang pernah kau dongengkan

saat itu juga aku lebih ingin terbang saja ke jauh zaman

sebelum aku ketemu makhluk yang bernama kau

sebelum jiwaku sungguh-sungguh benci padamu

jadi, biar aku belari kembali

sebelum sorot matamu mengembalikan aku

ke saat di mana aku benar-benar ingin berlari

5 may 2005

melepas masa sma

hei, mataku ini sembab dan bekerja terlalu lelah

hari ini aku akan berjalan mulai jauh

kau juga berjalan jauh

menatap jutaan sauh yang siap menangkap impian kita

kakiku berlari dengan bintang

tapi hatiku tertinggal di pematang

pematang yang mengantarkan aku ke pematang yang lain

sungguh, telak hatiku semakin rindu ada sawah hijau

sawah hijau yang menghidupi handai taulanku

mereka yang tak lain ayah ibuku

adik kakakku

yang meraih tanganku ketika kaki ini terjerembab di lumpur

yang ikut menggendong keranjang berisi ilmu bermanfaat

ah, Tuhan, kalau boleh aku berharap

jika suatu hai anakku lahir dengan bahagia

dapat kutunjukkan bagaimana

sawah yang hijau ini menggembleng ibunya

bagaimana seorang ibu pun memiliki hutang budi yang luar biasa

pada pematang-pematang yang bertepi

agar di hari itu dan seterusnya

semakin aku mengerti 

betapa jika tak kulewati pematang itu

mungkin hidupku takkan begini

june 2005

destiny

Aku mengumbar tali layangan rapuh
menghentak hentak haluannya agar terarah
tapi aku ini pengemudi bodoh
tak tahu benar cara mengedalikannya
Layangan lantas oleng terjatuh menabrak kepalaku
Membuatku terdiam dan berpikir
Apa caraku salah
atau angin berubah arah
Tiba-tiba hujan deras
Kertas layanganku lepek
Aku ingin sekali menangis
Antara bingung dan tidak peduli 
lanangan koyakku ku bawa pulang
jenuh..penat…
mau kuapakan dia?
kuhancurkan
kuperbaiki meskipun sulit
atau kubuat lagi dan kutanya pada ayah bagaimana cara memainkannya
Sejenak memori girangnya hati saat layang-layangku pertama melambung membuncah

tapi segera pergi meninggalkanku bimbang dan setengah putus asa

dec 2005

for andaru, my little sister

U’re the shinin’ stars

ang fallin down toearth 

to light upon our lifes

though u re movin so fast

we still can see ur light

it’s beautiful and lovely

that’s what u are

u have ur own flash

u re different gift from up

stay d same

shine on…little girl…